MENUNGGU KEAJAIBAN

Kematian, kematian adalah sebuah takdir yang sudah direncanakan Oleh Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan takdir itu datang dan tidak ada yang bisa mengubah semua itu kecuali Tuhan… nama aku adalah Dinda dan aku sekarang berusia 17 tahun. Teman-teman menganggap aku adalah anak perempuan yang begitu sempurna dan begitu bahagia karena aku lahir dari keluarga yang kaya raya.          Aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri “mengapa semua orang berfikir bahwa orang kaya itu sudah pasti bahagia?” mungkin teman-teman ku mengira aku anak yang begitu bahagia karena aku tidak pernah menunjukan ke mereka bahwa aku sangat terpuruk. Karena aku tidak mau membuat orang lain mengasihani aku. Aku mempunyai penyakit yang mungkin tidak pernah bisa disembuhkan.

Aku mempunyai penyakit jantung dan tidak ada yang tahu tentang itu bahkan keluarga ku sendiri. Aku anak satu-satunya tapi orang tua ku jarang dirumah bahkan bisa dibilang tidak pernah. Mereka sibuk sendiri sehingga lupa sama apa yang mereka punya. Aku dirawat oleh pekerja-pekerja dirumahku sehingga aku menganggap bahwa orang tua ku adalah mereka. Cuman uang yang mereka kirim setiap bulannya untuk kebutuhan ku. Tidak pernah mereka menanyakan kabar ku.

Aku mempunyai sahabat yaitu ImeL. Imel adalah sahabat ku dari kecil berumur 6 tahun. Aku selalu bersama dia. Sekarang Aku duduk dibangku 2 SMA. Dan ada teman ku bernama Aldo, dia bisa dibilang sempurna karena dia idola disekolah ku. Aku menyukai dia sejak aku pertama kali melihat dia pas aku masuk kelas 1 SMA. tapi Aldo tidak mengetahui tentang itu. Aku pendam rasa suka ku sudah 2 tahun dan cuman Imel yang mengetahui tentang itu. Rasanya aku ingin mengungkapkannya tapi aku takut, aku takut dia tidak merasakan hal yang sama.

Suatu hari disekolah aku dan Imel duduk ditaman sambil membaca buku. Tiba-tiba Aldo datang menghampiri ku “hai din, lo gak ke kantin?” ucap aldo, “haaaai.. heeem engga nih tadi gue udah makan dirumah” ucap ku sambil malu-malu. Dan Imel pun menggodai ku karena pipi ku yang memerah. aku dan Aldo bisa dikatakan dekat, karena aku sekelas sama dia dari kelas 1.

Pas aku sedang membaca buku di kelas  sendiri tiba-tiba Aldo datang dan berbicara yang tak pernah ku sangka “din nanti malem lo ada acara gak?” ucap aldo, “heeeem engga ada do. Kenapa?” ucap ku yang bertanya-tanya. “nanti malem mau gak makan malam bareng?” kata Aldo, “hah? Gue mau do” kata ku sambil muka yang memerah. “ok nanti malam gue jemput ya”. aku menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya aku bilang ke sahabat ku Imel kalau aku akan makan malam bareng Aldo.

Tepat pukul jam 7 malam Aldo datang kerumah ku untuk menjemput ku. Aku dan Aldo makan malam disebuah restaurant daerah Jakarta. Pas saat itu aku merasa tidak enak badan. Badan ku dingin, bibir dan jari-jari ku membiru, aku tidak bisa bernafas dan Aldo sangat panik sehingga dia membawa ku kerumah sakit. Sejak dari situ Aldo mengetahui penyakit ku dan baru dia yang mengetahui tentang itu. “kenapa kamu tidak bilang tentang itu dari dulu? Apa Imel tahu tentang hal ini?” ucap aldo dengan suara yang penuh bertanya-tanya. Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab.

Dan kata dokter aku harus dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Ke esokan harinya Imel datang  kerumah sakit untuk menjenguk ku, dia dapat kabar kalau aku masuk rumah sakit dari Aldo. “kenapa bisa kayak gini sih din? Lo kenapa? Kenapa lo gak pernah bilang ke gue tentang ini? Kenapa din?” ucap Imel yang penuh dengan air mata “gue selalu ada buat lo din, gue sahabat lo” aku hanya diam tanpa kata. Cuman air mata yang menetes dari mata ku.

Imel dan Aldo yang menjaga ku saat aku di rawat. Dokter bilang bahwa penyakit ku ini sudah semakin parah, dan bisa di hitung kapan aku meninggal. Sejak itu Imel dan Aldo sangat menjaga ku se akan-akan mereka sangat takut atas kepergian ku nanti. Saat aku keluar dari rumah sakit, Aldo mengajak aku jalan-jalan. Aldo membawa ku ke sebuah taman. Aku dan Aldo duduk di sebuah kursi pinggiran taman.

Hari itu sudah mulai senja Aku melihat ke langit, burung-burung bertebangan “burung-burung itu terbang tepat waktu. padahal mereka kan gak punya jam, tapi mereka tahu kapan mereka harus terbang“ ucap ku. “insting din…” ucap Aldo. “sama seperti kematian, tidak punya jam tapi tahu kapan harus datang. mungkin dari itu kenapa kematian itu bagian dari takdir, karena tahu kapan harus datang” ucap ku.

“din.. aku tidak akan pernah melupakan mu” Aldo. “kenapa kamu begitu yakin? Orang mudah lupa bahkan sama janjinya sendiri” ucap ku. “tapi aku engga kayak gitu” Aldo. “kalau aku jadi kamu, aku gak akan janji apa-apa sama kamu. Karena kalau kamu meninggal, aku akan bertemu dengan orang lain.. aku akan suka dengan orang lain lagi.. dan aku….” Ucap ku dengan menahan air mata di mataku. “kita gak pantas ngomongin soal ini” ucap Aldo. “kenapa? Karena aku sekarat? Karena aku akan mati? Jadi kita gak pantas ngomongin ini?”  “aku cuman minta satu dari kamu, aku minta sedikit ruang dihati mu untuk mengenangku nanti. Sedikit aja… untuk aku do..” ucap ku dengan penuh harapan. Aldo menatap ku se akan-akan dia akan ngelakuin yang aku minta. Semakin hari tubuhku semakin lemah dan aku berfikir bahwa kematian ku sudah di depan mata.

Dan yang tidak pernah disangka, orang tua ku pulang kerumah dan mereka tahu tentang penyakit ku. Mereka berencana untuk membawa ku berobat di Amerika dan tinggal disana. Tapi aku tidak mau, karena kalau aku kesana aku tidak akan pernah bertemu dengan Aldo dan Imel sahabatku lagi. Semakin hari aku merasa kesakitan dan hanya air mata yang ku keluarkan. “kamu harus turutin permintaan orang tua mu” Aldo. “aku tidak mau dan tidak akan mau. Kalau aku kesana penyakit ku ini juga gak akan sembuh” ucap ku. “tapi kamu harus, kamu harus berusaha. Kamu gak boleh kayak gini, Tuhan punya rencana lain. Tidak ada yang tidak mungkin di Dunia ini kalau Tuhan berkehendak” ucap Aldo dengan penuh keyakinan kalau aku akan sembuh. Dan begitu juga dengan Imel yang menyemangati ku untuk berobat di Amerika.

Akhirnya aku memutuskan untuk berobat di Amerika dan menetap disana. Sejak aku pindah, hubungan aku dan Aldo renggang. Begitu pun juga dengan Imel. Aku disini tidak bisa apa-apa, hanya terbaring lemah. Aku sudah ikhlas dengan kematian ku. Aku selalu minta kepada Tuhan untuk menjaga orang-orang yang aku sayangi dan menyayangi ku. Karena tanpa mereka aku tidak bisa apa-apa.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s